Difteri, Tetanus dan Pertusis adalah penyakit berbahaya yang disebabkan bakteri.

Difteri ditandai dengan terjadi selaput putih keabu-abuan di tenggorokan, yang menyebabkan kesukaran bernapas, gagal jantung, sampai dengan kematian. Ditularkan melalui percikan ludah.

Tetanus (lock jaw) ditandai dengan kekakuan otot muka dan seluruh otot badan dengan rasa nyeri. Otot mulut dapat kaku sehingga tidak dapat rnembuka mulut dan tidak dapat menelan sehingga dapat menyebabkan kematian.  Angka kematian 2 diantara 10 orang pasien. Tetanus disebabkan luka dalam dan kotor. Pada bayi Baru lahir bakteri tetanus masuk melalui tali pusat yang dipotong tidak steril.

Pertusis (whooping cough) ditandai batuk yang terus menerus dan diakhiri dengan muntah menyebabkan anak tidak dapat makan, minum dan berhenti bernapas (apnu) terutama pada bayi kecil.

Dapat menyebabkan pneumonia, kejang, kerusakan otak dan kematian.

Penyakit difteri, tetanus dan pertusis dapat clicegah dengan vaksinasi DTP. Sebagian besar anak yang mendapat vaksinasi akan terlindungi dari penyakit ini pada masa kanak-kanak.

Penyakit difteri, tetanus, dan pertusis Iebih berisiko daripada efek samping vaksinasi DTP. Walaupun demkian vaksin seperti obat dapat menimbulkan efek samping yang serius seperti reaksi alergi berat (syok) tetapi jarang sekali. Efek samping ringan yaitu :

  1. Demam, terjadi pada 1 diantara 4 anak.
  2. Kemerahan dan sedikit bengkak pada tempat suntikan terjadi pada 1 diantara 4 anak.
  3. Rasa sakit pada tempat suntikan, terjadi pada 1 diantara 4 anak.

Efek samping tersebut Iebih sering terjadi pada vaksinasi ke 4 dan ke 5 berlangsung selama 1 s.d 7 hari (terjadi 1 diantara 30 anak) yaitu :

  1. Rewel (1 diantara 3 anak).
  2. Nafsu makan berkurang ( 1 diantara 10 anak).
  3. Muntah (1 diantara 50 anak).

Efek samping di atas timbuI 1 s.d 3 hari setelah vaksinasi yaitu :

  1. Selang 1 diantara 14,000 anak.
  2. Menangis terus menerus selama >3 jam (1 diantara 1000 anak).
  3. Demam tinggi 39°C (1 diantara 16,000 anak).

Efek samping berat (jarang sekali terjadi) yaitu reaksi alergi berat (syok) terjadi pada 1 diantara 1 juta dosis.

Siapa  yang harus divaksinasi dengan DTP dan kapan vaksin tersebut diberikan?

Anak harus mendapat vaksinasi DTP lima kali pada usia:

  1. 2 bulan, 4 bulan dan 6 s.d 18 bulan dan 4 s.d 6 tahun atau;
  2. 2 s.d 4 bulan dan 18 bulan (SD kelas 1).

Vaksin DTP dapat diberikan bersama dengan vaksin lain. Untuk anak usia >7 tahun diberikan vaksinasi Td atau Tdap. VaksinTd/Tdap melindungi terhadap tetanus, difteri dan pertusis harus diulang setiap 10 tahun sekali.

Kapan vaksinasi DTP tidak boleh diberikan?

  1. Ketika anak sakit berat disertai panas tinggi, pemberian vaksinasi tidak dapat diberikan. Vaksin ini dapat diberikan setelah anak sembuh dari Namun pada sakit ringan tanpa demam, vaksinasi tetap dapat diberikan.
  2. Anak yang pernah mendapat reaksi alergi berat setelah vaksinasi pertama kali dengan DTP, tidak diperbolehkan untuk mendapat vaksinasi selanjutnya. Kejang atau pingsan segera setelah vaksinasi dengan
  3. Anak menangis keras dan terus menerus selama >3 jam setelah vaksinasi. Kelainan tersebut jarang sekali terjadi dan mungkin juga bukan karena vaksin.

Bagaimana bila terjadi reaksi yang serius?

Apa yang harus diperhatikan?

Perhatikan gejala yang timbul seperti reaksi alergi berat, demam sangat tinggi atau perubahan perilaku. Gejala reaksi alergi berat seperti biduran seluruh badan, edema muka, bengkak bibir, bengkak kelopak mata, sesak napas, denyut  jantung/nadi meningkat pusing dan lemas. Gejala ini timbul segera setelah beberapa rnenit sampai 2 jam setelah vaksinasi. Apabila hal ini terjadi (reaksi alergi berat) segera bawa ke rumah sakit terdekat.

 

Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Website

Leave a reply