Hipospadia ditandai dengan kelainan lubang kencing, yaitu terletak di bawah ujung penis. Hal ini terkait dengan kegagalan perkembangan saluran kencing dan adanya chorde. Berdasarkan lokasi lubang kencing hipospadia dapat dibedakan menjadi tipe yang ringan (glanular dan subkoronal), tipe sedang (distal shaft, mid shaft, proksimal shaft), dan tipe berat (penoskrotal, skrotal dan perineal). Hipospadia merupakan kelainan bawah lahir dengan insiden 1:300 kelahiran bayi laki-laki, sehingga menjadi salah satu kelainan bawaan lahir yang cukup sering ditemukan.

 

Hipospadia dapat mengakibatkan cara berkemih tidak normal pada laki-laki terutama yang tipe berat. Selain itu hipospadia membuat bentuk penis terlihat abnormal, yaitu bengkok ke bawah akibat tarikan chorde.

 

Gejala hipospadia

Hipospadia dapat didiagnosis dari pemeriksaan fisik pada saat bayi dilahirkan. Namun hipospadia tipe berat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut diantaranya pemeriksaan kromosom. Gejala hipospadia bergantung dari tipe hipospadia. Pada yang tipe ringan gejala hanya dapat berupa penis yang bengkok pada saat ereksi. Pada hipospadia tipe berat gejala dapat berupa berkemih seperti anak perempuan.

Secara umum cara mengenali hipospadia adalah sebagai berikut:

  1. Adanya dorsal hood, yaitu kulit di ujung penis seperti penis sudah tersunat.
  2. Curvatura penis, yaitu penis bengkok, terutama pada saat ereksi.
  3. Lubang uretra tidak terletak di ujung penis, menyebabkan berkemih tidak seperti anak laki-laki pada umumnya.
  4. Sering kelainan hipospadia disertai buah zakar yang tidak teraba di kantung kemaluan.
  5. Ambiguous genitalia. Pada yang tipe berat, orang tua sulit mengenali jenis kelamin pada penderita hipospadia.

 

Komplikasi Hipospadia

Penderita hipospadia disarankan dilakukan penanganan sebelum menginjak usia sekolah (usia 2-5 tahun). Jika terlambat penanganannya dapat berakibat pada kondisi psikologis anak penderita hipospadia. Penanganan hipospadia juga harus ditangani dengan teknik operasi yang baik dan benar.

Komplikasi akibat penanganan hipospadia yang terlambat atau tidak benar diantaranya:

  1. Kelainan psikologis pada anak. Keterlambatan penanganan hipospadia dapat membuat anak menjadi tidak percaya diri. Hal ini dapat diakibatkan si anak merasa bentuk penis atau berkemih tidak seperti anak laki-laki teman sekolah lainnya.
  2. Penis menjadi bengkok pada saat ereksi. Hal ini salah satu dapat akibat chorde pada penis yang tidak dibuang adekuat pada saat operasi.
  3. Bocor atau lubang kencing tetap di bawah ujung kemaluan. Lebih dari 250 publikasi jurnal di berbagai negara, angka kegagalan operasi rekonstruksi hipospadia masih sangat lebar berkisar 1-90%. Dengan teknik yang baik dan benar, operasi hipospadia mempunyai angka keberhasilan di atas 80%. Hipospadia tipe ringan atau tipe sedang sering dapat berhasil dengan satu tahap operasi. Rekonstruksi hipospadia termasuk operasi yang membutuhkan pengetahuan, jumlah kasus dan pengalaman yang tinggi.
  4. Bentuk penis tidak normal. Salah satu akibat dari operasi hipospadia yang tidak baik adalah trapped penis, dimana penis tenggelam akibat tarikan chorde.

 

Penanganan operatif hipospadia

Tujuan operasi rekonstruksi hipospadia adalah :

  1. Membuat lubang kencing berada di ujung atau dekat ujung penis, sehingga si anak dapat berkemih normal yaitu berkemih berdiri seperti anak laki-laki lainnya.
  2. Membuat penis dapat lurus. Hal ini terutama dapat diihat penis lurus pada saat ereksi pagi.
  3. Membuat bentuk penis mendekati bentuk penis normal.

Operasi hipospadia dianjurkan pada saat ukuran penis cukup besar dilakukan operasi rekonstruksi dan sebelum masuk usia sekolah. Usia yang dianjurkan untuk operasi hipospadia yaitu pada saat usia 2-5 tahun. Apabila ukuran penis belum cukup besar dan sudah mendekati usia sekolah dapat dilakukan terapi hormonal pembesaran penis sehingg operasi bisa dilakukan lebih cepat.

 

Langkah yang harus diambil bila mempunyai anak dengan hipospadia

  1. Jangan membandingkan bentuk kelamin si anak dengan anak lainnya. Hal ini dapat membuat anak menjadi tidak percaya diri.
  2. Jangan melakukan sirkumsisi biasa pada si anak. Hal ini dikarenakan kulit di ujung penis dapat dipakai untuk membuat saluran kencing pada saat operasi rekonstruksi hipospadia.
  3. Bawa si anak untuk diperiksa ke dokter ahli.

 

 

Penulis artikel:

Andre Yudha

Spesialis urologi subspesialis urologi anak

Email : andreyudhaalfanius@yahoo.com

 

Cerah Purba

Dokter Umum

Email: cerahpurba@gmail.com

RSU Sahid Sahirman, Jakarta

Leave a reply