Apa itu penyakit difteri?

Difteri merupakan penyakit menular akibat infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang seringkali menyerang bagian selaput lendir (mucus) pada tenggorokan dan hidung namun dalam kondisi tertentu dapat pula menyerang kulit.

Difteri termasuk ke dalam salah satu infeksi berbahaya yang dapat berujung pada kematian jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Apa penyebab penyakit difteri?

Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri yang bernama Corynebacterium diphtheriae.

bakteri tersebut masuk ke dalam kelompok bakteri gram positif yang sifatnya sangat mudah menyebar sehingga apabila satu pasien terjangkit maka risiko mewabah pada satu daerah sangat mungkin terjadi.

Bagaimana kita dapat tertular difteri?

Penularan difteri dapat terjadi melalui : respiratory droplet ( dari percikan batuk/bersin), sekret nasofaring (seperti ingus/dahak/lendir) dan penggunaan alat yang terkontaminasi bakteri corynebacterium diphteriae seperti alat makan yang kontak dengan pasien atau sikat gigi dsb.

difteri pada kulit merupakan kasus yang jarang ditemui, namun penularannya dapat terjadi akibat kontak dengan luka kulit pasien.

Siapa yang paling rentan terkena penyakit difteri?

Jika kita gunakan data tahun lalu sebagai sampel, yang paling banyak terkena penyakit difteri dari 415 kasus adalah anak-anak usia 1-9 tahun sebesar 59%, usia 1-4 tahun sebesar 23%, dan 5-9 tahun sebesar 36%. Sisanya terjadi pada anak usia 10-14 tahun sebesar 11%, dan remaja hingga dewasa (15 tahun ke atas) sebesar 28%.

namun, siapa saja yang tidak mempunyai kekebalan terhadap bakteri difteri (belum imunisasi/ tidak pernah imunisasi) memiliki risiko yang sangat tinggi untuk tertular.

Apa saja ciri-ciri penyakit difteri?

Ciri-ciri dan gejala awal seseorang terkena penyakit difteri adalah:

  1. Mengalami radang tenggorokan
  2. Muncul lapisan berwarna putih hingga abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel
  3. Demam menggigil
  4. Sakit saat menelan
  5. Suara menjadi serak
  6. sulit bernafas

Pada awalnya bakteri difteri akan menginfeksi selaput lendir pada hidung dan tenggorokan dimana bakteri tersebut akan membentuk lapisan berwarna abu-abu yang disebut pseudomembran pada awalnya tenggorokan dan amandel. Lapisan berwarna abu-abu tersebut merupakan tumpukan sel-sel mati akibat dari racun yang dihasilkan oleh bakteri difteri. pseudomembran tidak hanya bertahan di tenggorokan & amandel saja, ia dapat meluas ke seluruh saluran pernapasan sehingga menyebabkan kesulitan untuk bernafas. Untuk bisa mengeceknya Anda bisa membuka mulut anak kemudian minta anak untuk menjulurkan lidahnya hingga terlihat bagian dalam tenggorokan dan amandelnya. Jika terlihat ada lapisan berwarna abu-abu seperti ini maka segeralah ke dokter..

Mengapa difteri dikatakan berbahaya?

pseudomembran yang menyerang tenggorokan dan amandel dapat meluas ke seluruh saluran pernapasan menyebabkan kesulitan bernafas dan dapatmenutup jalan nafas. selain daripada itu,

Bakteri difteri juga memiliki kemampuan untuk memproduksi racun yang dapat terbawa ke aliran darah dan tersebar ke berbagai organ di dalam tubuh. apabila racun ini masuk ke jantung dan sistem saraf akan memiliki dampak yang fatal. jika toksin tersebut masuk ke jantung, ia dapat merusak otot-otot jantung yang dapat mengakibatkan kematian.

Bagaimana cara mencegah penyakit difteri?

cara paling efektif untuk mencegah penyakit difteri adalah dengan memastikan setiap anak pada setiap daerah mendapatkan imunisasi DPT lengkap. pemutusan rantai penularan dan eradikasi penyakit difteri melalui pemberian imunisasi pada suatu daerah akan mencegah timbulnya kasus baru sehingga tidak ada lagi yang tertular.

Imunisasi difteri pada anak terdapat pada vaksin DPT (difteri,pertusis & tetanus) dimana pemberian vaksin ini masuk dalam program wajib pemerintah Indonesia. Pemberian vaksin DPT pada anak diberikan 5 kali yakni saat anak usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan dan 5 tahun (kelas 1 SD). untuk perlindungan tambahan sebaiknya dilakukan booster (penambah antibodi) vaksin di usia 10 tahun & 18 tahun yang disebut dengan vaksin Td/Tdap, dimana vaksi tersebut dapat diulang setiap rentang waktu 10 tahun.

 

dr. Jivita C. Basarah
Instalasi Gawat Darurat – RSU Sahid Sahirman

Leave a reply