Sering merasa nyeri atau tersendat saat buang air kecil? Apakah Anda sering terbangun dan ingin berkemih pada malam hari? Gejala-gejala ini sangat umum terasosiasi dengan pembesaran kelenjar prostat. Kenali lebih jauh apa penyebab dan penanganannya. 

 

Pembesaran Kelenjar Prostat

Pembesaran kelenjar prostat atau Benign Prostate Hyperplasia (BPH) adalah nama yang biasa digunakan untuk pembesaran jinak pada prostat. BPH merupakan penyakit tersering kedua di klinik urologi di Indonesia setelah batu saluran kemih.

 

Anatomi Prostat

Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di bawah dari buli-buli, di depan rektum dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah kemiri dengan ukuran 4x3x2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram. Jika terjadi pembesaran beratnya prostat bisa sampai 50-100 gram.

Kiri: anatomi prostat normal. Kanan: anatomi prostat yang mengalami pembesaran (BPH)


Penyebab

  1. Usia

Pada orang-orang lansia resiko terjadinya BPH dapat meningkat seiring bertambahnya usia. Perkembangan BPH secara mikroskopis dimulai antara usia 25 – 30 tahun. Setelah menginjak usia 45 tahun ke atas maka prevalensi terjadinya BPH akan meningkat dan mencapai 90% pada usia diatas 80 tahun.

 

  1. Hormon

Untuk pertumbuhan sel kelenjar prostat sangat dibutuhkan suatu metabolit androgen yaitu dihidrotestosteron atau DHT. DHT yang telah berikatan dengan reseptor androgen (RA) membentuk kompleks DHT-RA pada inti sel dan selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat. Pada BPH, aktivitas enzim 5α-reduktase dan jumlah reseptor meningkat, hal ini menyebabkan sel prostat bereplikasi sel lebih banyak.

 

Diagnosis

Diagnosis BPH dapat ditegakkan berdasarkan atas pemeriksaan awal dan berbagai pemeriksaan tambahan. Bila terdapat masalah berkemih maka akan dilakukan anamnese, pemeriksaan fisik (DRE = Digital Rectal Examination), pemeriksaan laboratorium (PSA= Prostate Specific Antigen), uroflowmetri, dan terkadang biopsi serta ultrasonografi digunakan untuk menemukan jenis kelainan dari prostat (BPH, kanker prostat atau prostatitis).

Salah satu pemandu yang tepat untuk mengarahkan dan menentukan adanya gejala serta untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan akibat pembesaran prostat dibuatlah sistem skoring yang secara subjektif dapat diisi dan dihitung sendiri oleh pasien. Sistem yang dianjurkan oleh WHO ini adalah International Prostate Symptom Score (IPSS). 

Tabel IPSS. Sumber: WHO

 

Penatalaksanaan

Tujuan terapi pada pasien BPH adalah mengembalikan kualitas hidup pasien. Terapi yang ditawarkan pada pasien tergantung pada derajat keluhan, keadaan pasien, maupun kondisi objektif kesehatan pasien yang diakibatkan oleh penyakitnya. Pilihannya adalah mulai dari tanpa terapi (watchful waiting), medikamentosa, dan terapi intervensi.

1. Tanpa terapi (watchful waiting)

Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS <8 dan ≥8, tetapi gejala LUTS tidak mengganggu aktivitas sehari- hari

2. Medikamentosa 

Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk mengurangi resistensi otot polos prostat dengan obat-obatan penghambat adrenergik-α dan mengurangi volume prostat dengan cara menurunkan kadar hormon testosteron/dihidrotestosteron melalui penghambat 5α-reduktase.

3. Intervensi

Pembedahan direkomendasikan pada pasien BPH yang tidak menunjukkan perbaikan setelah terapi medikamentosa, mengalami retensi urin, infeksi saluran kemih berulang, hematuria, gagal ginjal, dan timbulnya batu saluran kemih atau penyulit lain akibat obstruksi saluran kemih bagian bawah.

 

– Trans Urethra Resection of Prostate

Trans Urethral Resection of The Prostate (TURP) adalah tatalaksana bedah standar untuk pasien BPH. Menurut The European Association of Urology Guidelines 2009, TURP adalah pengobatan pilihan untuk prostat, namun memiliki angka morbiditas pasca operasi yang signifikan. TURP dapat mengakibatkan komplikasi seperti perdarahan pascaoperasi, striktur uretra, inkontinensia urin, ejakulasi retrograde, dan sindrom TURP. Komplikasi yang menyebabkan perdarahan membutuhkan transfusi darah sesegera mungkin.

 

– Laser Prostatektomi (Green Light Laser)

Jika dibandingkan dengan pembedahan, pemakaian laser ternyata lebih sedikit menimbulkan komplikasi : resiko perdarahan yang sangat minimal dan operasi dapat langsung dilakukan pada pasien yang mengkonsumsi obat pengencer darah. Lama perawatan jauh lebih cepat dari operasi TURP, pasien dapat rawat jalan satu hari post operasi. Kekurangannya adalah tidak dapat diperoleh jaringan untuk pemeriksaan patologi (kecuali pada Ho:YAG).

 

Penulis :

dr. Andre Yudha, SpU

Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Anak, RSU Sahid Sahirman

Senin – Jumat: 16:00 – 19:00, Sabtu: 10:00 – 14:00

 

dr. Cerah Purba

General Practitioner, RSU Sahid Sahirman

 

Leave a reply